Tidak pernah merasa setakut ini terhadap kematian
Bukan karena takut sakitnya ruh ditarik keluar
Bukan karena merasa diri ini belum banyak amalnya, karena gw tau bahwa rahmat Allah subhanahu wata'ala tak terbatas
Tapi takut bagaimana hidup anak-anak setelah gw ga ada
Saat ini sudah jauh, pertemuan sangat singkat, dan tidak imbang dengan jarak antar pulau ini, tapi masih bisa saling menguatkan
Bagaimana bila gw udh ga ada?
Rahmat Allah subhanahu wata'ala sangat luas, dan ga ada satupun makhluk bernyawa yang tidak dijamin rejekinya, termasuk semua keluarga gw. Tapi apakah mereka bisa berkembang dengan baik saat keluarganya timpang?
Saat inipun masih suka sedih, anak-anak bertumbuh tanpa ditemani secara langsung. Abang yang tambah besar selalu menantikan sabtu sore untuk main bola bersama ayahnya : sebulan sekali. Dede selalu menantikan ayahnya pulang untuk minta izin install game terbaru di gawai pink nya.
Memang kehadiran virtual tercukupi, tapi sentuhan langsung lebih penting.
Saat ini ga ada yang bisa dilakukan selain berdoa dan saling menguatkan
--------------------------------
Memento mori
