Minggu, 19 Juni 2016

Bukan Rama, tapi Rahwana



Bukankah Shinta tercipta untuk Rahwana?
Sang Dasamuka mempesona
Sang pemimpin yang lebih pantas meraja

Ia jahat? 
Tidak, Ia hebat
Alengka mencintai, Alengka memuji

Lalu kenapa ada Rama?

Rama hanya menguji
Rama hanya menghalangi
Bukankah Ia yang meragukan kesetiaan Shinta?
Bukankah Ia yang meragukan kesucian sang putri dari Mithila?
Bahkan terhadap Lawa dan Kusa ?

Rahwana lah pecinta sejati
Tak satu sentuhan pun menodai Shinta
Karena Ia cinta
Karena Ia setia
Karena Ia tak pernah memaksa

Sampai hayat menyayat di akhir hidup, tak sekalipun Ia berpaling dari memuji Shinta, dari mengkhianati perasaan,dari pemujaan yang selalu berlebihan.

Shinta layak dipuja, layaknya seorang Dewi

Dan Rahwana adalah seorang pemuja, meskipun Ia adalah sang raja
Mengajarkan rasa cinta tanpa memaksa, tanpa syarat untuk setia, dan menerima karena jalannya..

Shinta membutakan logika
Rahwana mengalahkan egonya
Adakah yang lebih indah dari itu semua?






Sabtu, 28 Mei 2016

Berhenti Saat Harus Berhenti



Berhenti bertanya saat sudah terjawab
Karena tanyamu berikutnya hanya akan membuka lebih banyak tanya

Berhenti mencari tahu saat sudah terlihat
Karena rasa ingin tahumu kemudian cuma akan menambah rasa penasaranmu,bukan menutupinya

Berhenti meratapi masa lalumu saat sudah terlalui
Karena ratapanmu setelahnya hanya akan membuka luka lamamu, bukan menyembuhkannya

Berhenti meminta maaf saat sudah termaafkan
Karena permintaan maafmu yang terus menerus takkan mampu mengobati yang sudah terjadi,takkan bisa membuatnya kembali,takkan bisa membuatnya berhenti meratapi

Teruslah melangkah ke depan
Karena kita harus terus berjalan
Entah bergandengan
Atau ke arah yang berlawanan
Entah saling mendukung
Atau malah sama-sama mengukung














Selasa, 19 April 2016

Putarlah...



Sua ini
Mungkin yang pertama setelah sekian lama
Bahkan lupa rupa senyummu,atau nyinyirmu
Kenapa susah mengingatnya?
Di penghujung hari itu
Yang kuingat cuma satu lagu itu
Yang kuingat cuma langkah gontai itu

"Aaahhh,andai bisa memutar waktu", lirihmu
Entah kenapa, terdengar seperti penyesalan
Benarkah demikian?
Senyum nyinyirmu
Ya,aku ingat lekukan bibir itu
Dan memori lalu pun menyeruak
Tajam
Kembali mengiris

"Aku tak mau kembali terluka",tukasku

"Putar waktu untukku,akan kuperbaiki salahku
Akan kutata hatiku
Dan aku bersedia untuk belajar lebih menyayangimu", pintamu pelan, seperti menghilang, namun menggema

Senyumku mengembang
Tapi bukan kata yang keluar,bukan nasehat yang terucap
Hanya senyum
Bahagiaku karena tanya sudah terjawab
Karena misterimu semakin terkuak
Dan setidaknya aku bisa mati dengan punggung tegak

Kembali membelakangiku, dan berjalan kembali di tapak kecilmu
Bernyanyi pelan,dengan langkah teratur
Berbalik pelan, dan kembali berujar
"Tapi waktu takkan bisa diputar"








Banjarmasin, penghujung 2002