Rabu, 17 Juni 2026

Mulai dari awal

 

Sampai pada titik : "Sepertinya doaku salah"

 

Tuhan, maafkan doaku berulang. 

Tapi dari sujud siang ini, doaku akan berbeda






Selasa, 18 November 2025

Jauh

 November,

 

“Sampai ketemu, Ayah. Jangan lupa bawakan mainan buat Abang, sama roti mentega kaya biasa”. Lalu telepon video itu ditutup.

Bandara ini terlalu ramai, dan suara yang keluar dari handphone tanpa headset Bluetooth itu terlalu beradu dengan keadaan sekitar.

Dan seperti biasanya, pesawat tanpa pengumuman delay itu tetap baru memanggil penumpangnya masuk melewati waktu boarding di tiket.

Foto terakhir dikirim saat sudah berada dalam pesawat, dan seperti bulan sebelumnya, kalimat dibawah foto itu selalu berbunyi :”Ayah sudah siap terbang”, dan juga selalu dibalas dengan ucapan “Fii amanillah, semoga perjalanannya lancar sampai rumah”. Handphone berganti dengan mode terbang, kemudian berusaha menikmati perjalanan dengan dengar podcast yang sudah didownload sebelumnya. Yang sesungguhnya tidak benar-benar dinikmati, hanya agar penumpang sebelah tidak mengajak ngobrol karena melihat headset dengan kabel bonus dari handphone Samsung jadul dulu itu terpasang dengan baik di telinga.

Satu jam perjalanan, sampai di bandara tujuan. Karena larut malam, tidak ada jemputan, hanya ucapan maaf karena sang istri tidak bisa jemput karena kemalaman. Repot membawa 2 anak kecil, apalagi jarak rumah ke bandara lumayan jauh. Dapat dimengerti. Besok anak-anak harus sekolah, dan menjemput itu akan membuang waktu istirahat mereka.

Pesan taksi bandara, kemudian diantar dengan mulus dan lancar, karena hari hampir berganti dengan besok, jalanan sudah terlanjur sepi. Obrolan ringan dengan supir taksi, Kembali membuat kantuk mata hilang. Langganan katanya. Karena bukan sekali dua saja diantar dengan mobilnya, jadi cerita-cerita baru selalu mengalir, tanpa takut salah alamat, rumah sudah dihapalnya dengan baik.

Membuka pagar besi itu dengan sedikit dorongan. Terdengar bunyi deritan besi penyangga roda beradu dengan roda pagar. Berpikir untuk bisa memberi sedikit minyak di rodanya besok, agar bunyi berderit itu bisa hilang.

Kembali menutup pagar, lalu mengunci dengan rantai dan gembok yang selalu disimpan di kotak sepatu dekat pintu masuk rumah. Kemudian mengetuk pintu kamar. Tanpa jawaban. Wajar saja, jam sudah tinggi, semuanya sudah tidur. Bergerak kearah jendela, kemudian mengetuk seadanya agar anak-anak tidak bangun, cukup istri yang terjaga.

Tidak lama, pintu dibuka. Pelukan pertama, yang membuat rindu sebulan, dan jarak ratusan kilometer itu bisa sirna. Ehh, tidak. Bohong kalau bilang rindu itu hilang. Bahkan apabila kumpul satu atap pun, rindu itu selalu ada.

Berbincang sebentar, mengeluarkan barang bawaan. Kue-kue kesukaan istri, roti pesanan Abang, dan mainan murah yang pasti akan menambah berantakan ruang tengah. Segera masuk kamar, kemudian mencium dan memeluk 2 anak kecil itu. Pelukannya terlalu bersemangat, keduanya sempat bangun, namun kembali tidur karena kantuk yang menang.

Jumat pagi. Sepasang anak kecil itu tentu saja sangat bersemangat saat melihat sang Ayah ada. Bisa minta buatkan sarapan, bekal, dan tentu saja momen diantar ke sekolah. Hangatnya pagi itu. Sang Adik selalu memanggil Ayah dengan panggilan “Ayah ganteng”, walaupun tidak tampil di tivi seperti artis. Sang Abang yang doyan memeluk, dapat bonus : bisa Jum’atan ke mesjid didekat sekolah TK nya dulu.Hal yang tidak bisa didapatkannya tanpa sang Ayah.

Sabtupun begitu, selain antar jemput sekolah, main ke mall atau sekadar makan diluar adalah hal yang ditunggu. Selalu menyenangkan. Dan entah apa yang dipikiran mereka, 3 hari ini adalah benar-benar bisa melepas semuanya, seakan hal menyenangkan ini berlangsung selamanya.

Minggu, suasana sudah mulai membiru. Hawa perpisahan sudah mulai terasa, tanpa memberi jeda. Penerbangan sengaja dipilih yang paling malam, agar bisa lebih lama bersama. Dan juga bisa memberi waktu anak-anak bisa bermain dulu di ruang pengantaran di bandara.

Panggilan menuju ruang tunggu sudah terdengar. Diperdengarkan 3 kali dengan bahasa berbeda ; sama saja, membuat terburu untuk berpelukan lagi, salaman lagi, dan mencium kening satu-satu lagi, kemudian saling melambaikan tangan, dan berusaha tidak menoleh ke belakang lagi agar jiwa terasa lebih kuat.

Perjalanan berikutnya lebih berat. Selain berpisah setelah 3 hari bersama, rute menuju kontrakan selalu lebih berat karena hari sudah malam. Entah jalan yang terlalu jauh dari bandara menuju pangkalan bis Damri, rebutan tempat duduk (bahkan rebutan bis dengan jalur tol) dalam bis di terminal, sampai betapa menakutkannya menunggu ojek motor online disimpangan stasiun yang gelap itu.

----------------------------------------------------------------------------------------

Desember,

 

“Sampai ketemu, Ayah. Jangan lupa bawakan mainan buat Abang. Rotinya ga usah, yang lama aja ga habis dimakan”. Lalu telepon video itu ditutup.

Bandara ini terlalu ramai, dan suara yang keluar dari handphone tanpa headset Bluetooth itu terlalu beradu dengan keadaan sekitar.

Dan seperti biasanya, pesawat tanpa pengumuman delay itu tetap baru memanggil penumpangnya masuk melewati waktu boarding di tiket.

Foto terakhir dikirim saat sudah berada dalam pesawat, dan seperti bulan sebelumnya, kalimat dibawah foto itu selalu berbunyi :”Ayah sudah siap terbang”, dan kali ini dibalas dengan ucapan “Fii amanillah, sampai ketemu di bandara. Ini anak-anak maksa jemput karena besok mereka masih libur semesteran”. Handphone berganti dengan mode terbang, kemudian berusaha menikmati perjalanan dengan dengar podcast yang sudah didownload sebelumnya. Yang sesungguhnya tidak benar-benar dinikmati, hanya agar penumpang sebelah tidak mengajak ngobrol karena melihat headset dengan kabel bonus dari handphone Samsung jadul dulu itu terpasang dengan baik di telinga.

Hari Kamis sudah berganti Jumat, dan sudah lebih dari 3 jam menunggu di bandara. Itu sudah terlalu lama. Anak-anak sudah hilang semangat bermain, dan tidak mengerti kenapa pertanyaan “Kapan ayah datang” kepada Bundanya tidak dijawab dengan kata, namun tangisan, kemudian menarik tangan keduanya, masuk mobil, dan pulang ke rumah.

Jumat pagi : akhirnya sang Ayah Ganteng ada di tivi, walaupun bukan artis. Dan tangisan tanpa akhir selalu menyeruak dari rumah itu. Adik tidak tahu apakah masih bisa memakan roti mentega kesukaannya, dan Abang tidak tahu dengan siapa Ia akan berangkat sholat Jumat di bulan-bulan berikutnya.

 

 

 

 

 

Selasa, 22 April 2025

MSK-MSK

 Postingan pertama di awal seperempat kedua dari dua ribu dua puluh lima


Seperti tahun sebelumnya : dengan target kerja yang tak kunjung terkejar, dan kesibukan menata hati atas kenyataan berjauhan yang terus menjalar.

Lalu menyerah? Gak lah. Setidaknya ada 2 hal yang bisa bikin hidup saat ini bukan cuma sekedar bernafas : musik dan masak

Cuma atas dua hal itu, hidup lebih waras, sembari menunggu momen pulang dan memeluk 4 orang di seberang sana.

Semangat untuk semua insan yang tetap bertahan walaupun berjauhan






Rabu, 18 September 2024

Ketidakwarasan Padaku

 

 

Dan seperti malam-malam sebelumnya, setelah telepon ditutup, giliran jari jemari kaku ini yang geser-geser memainkan senar murah. Bukan cuma membunuh sepi, tapi untuk tetap bertahan, tetap berusaha waras.

Dan setelah videonya teraplot, baru bisa tidur dengan tenang. 

Betul juga komen seorang temen ke istri : "Selama saya lihat video mas Fuad masih bisa main gitar, saya tetap percaya dia sedang baik-baik saja disana"





Sabtu, 29 Juni 2024

Lawas




 

Hampir 6 taun ga ketemu, dan bahkan saat sudah satu pulau, ketemunya baru 6 bulan kemudian 😅






Cerita Bermula

 





Kita mulai dari nol lagi yaaa..Bismillah










Apotek Tutup





Sakit tak melulu berdarah

Dan senang tak melulu berakhir indah


Adakah obat atas hati yang cidera?

Kadang yang kita butuhkan bukan yang baru

Tapi waktu







Senin, 11 Desember 2023

Jalan

 

 

Suntuk

Ngantuk

 

 

 

Tapi kembali lagi, hidup terus berjalan, tak peduli apa rasamu 






Kamis, 27 Oktober 2022

 

An Elegy- Burgerkill

There's something I've been missing
I can't hold my head up high
Its getting really hard to laugh
And realize that you're already gone

These tears always paint me
My sins are constantly judging me
I cannot run... I cannot hide
Its killing me and dragging me down

I can feel your eyes are watching
But I can't hold my head up high
Its getting really hard to understand
The way you leave me... The way you leave me
And i'm still here standing on this endless road
Never had a chance to say thanks
Never had a chance to say goodbye

So much sadness, what happened to happiness?
Life is to short for questions
And it's hard to find the answers

Mezmerized by the light you exposed
Igniting a fire inside my soul
This strength runs through my veins
Wish I could bring you here again

Start a new beginning
Back to track and learning
Until we meet again...
 
 
 
 
 
 

Jumat, 14 Mei 2021

Pertama datang

Pertama pergi


Berawal
Berjalan sendirian
Kemudian saling menuntun
Berlari
Melambat
Dan tercerai di tikungan yang sesungguhnya sudah terlihat sejak awal

Kembali sendirian
Bertuntunan dengan tangan yang berbeda
Berlari dengan kaki yang berbeda
Terus melaju
Sampai ada yang terjerembab
Dan yang lain sejenak menikmati kemenangan bodoh

Disadarkan Tuhan
Terlihat seperti diberikan kesempatan
Tak sadar bahwa itu pengobat penyesalan sebelum kembali
Benar-benar kembali

Dan sebelumnya sempat mempertanyakan apa artinya, apa rasanya, apa kesannya, apa pesannya
Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya : pergi


(Binder hitam 2003)





Senin, 22 Februari 2021

Bau Tangan Mama

 

Weekend, disambung ama WFH Senin, bikin beberapa kegiatan yang biasanya males dikerjain jadi semangat buat diberesin. Mulai dari masang rumput sintetis di atas balkon yang masih kosong, nempelin daun2 yang gapernah layu, benerin susunan poster Abang buat belajar di kamar, benerin lemari di dapur yang gegara lembab, kayunya jadi terbuka, dan masak2 yang sampe bikin dapur terlihat lebih kumuh dari biasanya :-D

Kalo urusan masak, di rumah ini gw yang lebih seneng. Sementara bini yang sebenarnya bisa masak, lebih memilih beli jadi. Alasannya biar dapur kesayangannya selalu bersih. Memang sih, urusan kebersihan dan tata kota, bini beneran jago. Semua sudut rumah, tiap hari selalu di inspeksi. Kalo ada kotor atau lembab, langsung di bersihin dan di pel. Agak serem sih, takutnya gw yang dinyinyirin karena suka bikin berantakan. Namanya juga laki2, mana ada yang bener2 bersih.

----------------------------------------------------------------------------

Ahhh, tapi kalo urusan lidah, gw memang paling getol. Perut besar ini harus senantiasa diisi. Makanan berat, ataupun cemilan, Untungnya, selain hobi makan, gw juga hobi masak, walaupun standar, jauh dari skill ibu2 rumahan, apalagi skill koki warteg depan.

Kebetulan kemaren juga males beli makan di luar. Akhirnya masak aja pake bahan yang ada di rumah. Carbonara (selalu pake oregano leaves yang banyak), setup roti, roti fla gula aren, Sup Tomat Ikan Mas, masak bacem ayam ama tempe, dan ditutup ama Wajik Durian. Endeusss.. Suka lupa ama Diabetes dan Asam Urat kalo udah ketemu ama makanan ini, wkwkwk...





-----------------------------------------------------------

Kadang bingung juga kalo ditanya, belajar masak darimana? 

Gw gapernah belajar. Tapi demen ngutak atik bumbu, dengan cara yang ga lazim. Kalo orang2 biasanya nanya resep dan nanya di gugel, gw biasanya nyicip makanan, ngerasain komponennya apa aja, bumbunya apa aja, trus coba gw praktekin di rumah, hehehe...

Ga sama persis kaya yang dicicip, karena selalu ada penyesuaian rasa di lidah gw yang lebih demen ke manis daripada gurih. Yaaa, di modif dikit lah. Tapi biasanya, orang2 rumah seneng.

-----------------------------------------------------------

Tapi, tambah kesini, gw jadi inget, kalo kebisaan masak saya yang ga seberapa ini, akibat sering nemenin Mama dulu masak. Ya nemenin doang, ngobrol, sambil tanya nama bumbu, rasanya kaya gimana, dipake buat masak apa, prosesnya diapain aja. Gapake bantuin masak, karena sudah tentu Mama ga ikhlas makanan buat sekeluarga gw rusak :-P

Ahhh, jadi kangen bau tangan Mama. Tiap mau berangkat sekolah, salaman, cium tangan Mama (setelah sebelumnya minta uang sangu buat belanja es soda murahan yang ga cuma bikin pilek, tapi juga bisa bikin diabetes) yang bau bumbu2 makanan buat kami sekeluarga pagi itu. Dulu suka nahan nafas saat cium tangan Mama, sekarang malah kangen luar biasa. Bau perjuangan beliau di dapur, pagi2 udah nyiapin makanan sementara gw masih ngerapetin tubuh pake selimut jingga kesayangan yang sudah usang.

Sehat2 terus Mama Papa







Jumat, 19 Juni 2020

Nothing to lose




Pagi2, kaya biasa sesampai di kantor, sebelum jam kerja dimulai gw biasa buka2 hape dulu, liat status watsap temen2, tuit temen2, sampe setori di IG punya temen2..

Dan di setori IG gw, yang selalu apdet biasanya cuman setori akun berita banua, akun jualan hape jadul, ama satu temen gw yang kalo liat dia, ingatnya selalu kaktus :-D

Nah, isi setorinya si kaktus ini simpel banget loh, dia nanya kurang lebih gini : "Kenapa sih orang2 seneng ngasih harapan?"

Gw jawablah seadanya lewat DM

Dan namanya dia juga masih bocah, percaya aja ama yg gw bilang, padahal mah jawaban sekenanya aja, wkwkwkwk

Tapi tambah kesini, gw jadi mikir, pertanyaan ini kayaknya ga cuman ada dalam pikiran dia aja. Kadang kalo kita berharap pada seseorang, dan pupus, sedihnya poll loh cuy... Mikir gini juga, karena gw sendiri pernah ngalamin hal yang sama berulang kali.

Kalo awal2, yang namanya berharap trus ga dapet, ya sakit hati dikit, masih wajar aja lah. Tapi tambah ke depan, gw ga pernah lagi ngerasa yang namanya sakit secara berlebihan. Lah, gw jadi mikir doooong, kenapa jadi gitu? Dan setelah dikerucutkan, ada dua hal yang bisa bikin gitu : gw yang semakin tua, terlalu sering kehilangan harapan, akhirnya kebal, atau gw udah terlalu sering bikin harapan orang lain hancur tanpa gw sadari, dan itu akhirnya bikin empati gw ilang !!!

Serem aja kali ya kalo masuk ke penyebab yang kedua.

---------------------------------------------------

Kuncinya, ya karena kebiasaan

Jadi terngiang2 omelan Mama dulu kalo gw lagi ketauan bohong. Katanya sekali bohong, walaupun kecil, lama2 akan terbiasa bohong. Pun kebohongan akan terus nambah untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Nah, looooo !!!

Sekarang ya, terlepas dari bahasan diatas : 

Adalah mengerikan kalo gw secara tanpa sadar sudah ngasih harapan kepada satu orang, trus mengancurkannya tanpa gw sadari. Dan bagaimana kalo hal itu ternyata berulang terlalu sering, banyak banget harapan yang gw hancurin? Gw gak mempermasalahkan kalo hal itu bikin gw jadi kebal terhadap harapan gw yang dihancurin orang2. Gw cuman takut, hal tersebut bisa bikin empati gw lama2 jadi ilang !

Ya kalo orang yang gw hancurin harapannya itu juga udah kebal sih ga terlalu masalah, tapi kalo ampe menghancurkan orang yang bener2 berharap, dan bikin dia down setengah mati, apa ga merasa bersalah banget tuh?

-----------------------------------------------

Dalam DM ke kaktus, gw ngasih jawaban kenapa orang2 seneng ngasih harapan ? Gw jawabnya karena tanpa wujud. Iya, orang2 suka ngasih sesuatu yang ga nampak. Harapan, janji. Ngasihnya gampang, kan ga keliatan. Dan saat ngasih pun, ya ga berasa, nothing to lose

Dan hal yang bagi kita "gampang" itu ternyata bisa berdampak besar ama orang lain, yang entah beneran berharap, atau cuman baper.

------------------------------------------------

Di ujung tulisan bodoh ini, gw seperti biasa, ga pernah ngasih solusi. Gw malah ingin tulisan ini jadi perbaikan bagi diri gw pribadi. Kayaknya terlalu banyak harapan yang udah gw hancurin, begitu banyak janji yang ga gw laksanakan, dan terlalu banyak kebaperan yang terjadi karena gw terlalu lebay ngasih perhatian.

Udah gitu aja, Tulisan gw emang ga pernah serius. Sono, kerja lagi !







Senin, 16 Maret 2020

Merindiiiiiiiiing


Man Upon the Hill
Stars and Rabbit
 
 
Hey man upon the hill, up here...
I used to write you
You loved the way I watch the sun through my finger
We spent sometimes to the day we met
Can I fall into your consellation arm?
We drove in the wind, Opened the window
Waved to nothing, Just keep us awake
We drove under the heavy rain
Soaking wet yes
We laughed at it yet
So tell me more your constellation arm
And we danced in the room
Grew our heart a bloom
I stop right there! You've found a new home
I should be happy...
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Senin, 29 April 2019

Mending nahan, dah...



Ya, kalo liat videonya sih lucu. Tapi beneran, belajar bahasa Inggris itu hal yang amat susah buat gw. Sejak jaman esempe, pelajaran jni emang beneran jadi momok. Bukan bego juga sii, tapi suka bingung saat harus ngomong dengan menggunakan rumus apa 😅

Jadi inget, pas kelas 3 SMA, pelajaran bahasa Inggris, ada temen gw cewek yang izin mau ke kamar mandi. Doi jago banget dah, pake ngomong izin mau ke kamar mandi aja pake bahasa Inggris. Dan guru gw seneng dong anak didiknya jago sepik2 inglis. Walhasil sang guru minta siapapun yang mau izin harus ngomong pake bahasa Inggris. Dan gw ingat, sejak itu gw selalu nahan pipis saat pelajaran bahasa Inggris 






Rabu, 10 April 2019

Nyinyir






Sebenernya ni postingan  yang udah lama banget pengen gw tulis, tapi berhubung (sok) sibuk, selalu ada halangan buat ngetik. Bayangin, postingan terakhir gw itu hampir 5 bulan lalu, padahal gw pernah janji ama diri sendiri supaya disiplin bikin minimal 1 postingan per bulan.

Balik ke topik bahasan, silakan baca dulu sedikit ringkasan capture twitter yang tentu saja ngehits beberapa saat lalu, saat selebritis nikah di luar negeri. Banyak komentar, atau gw bilang disini adalah bentuk kenyinyiran, keprihatinan, dan ke-terlalupeduli-an ama kehidupan orang lain.

Bayangin, sesuatu yang sakral bagi orang lain, tetep dinyinyirin dan selalu tampak salah. Padahal yang nikah aja ga pernah ribet2 minta bantuan doi. Orang nikah pake biaya mereka juga, yang ntar ngejalanin hidup mereka juga, yang mau berantem dalam rumah juga mereka, ga usah dinyinyirin woyyy !!!

Trus, apa masalahnya dengan isi amplop? Nikah, resepsi, apapun itu namanya, bagi gw adalah acara pemberitahuan kalau ada sepasang pengantin yang meresmikan hubungan, sekaligus meminta doa agar rumah tangga bisa langgeng, pokoknya doa yang baik2 dah, dan gw ga peduli tentang apa yang akan diberikan oleh tamu undangan. Ya, mungkin gw salah sih, mungkin adat beda2 memandang hal ini, tapi adat disini, ga pernah mengharap apapun dari tamu, cuman kehadiran dan doa. Bisa nikah itu menurut gw suatu prestasi, dan untuk itu, gw dengan senang hati mengundang orang lain untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka. Trus kalo dikasih kado ama amplop apa gw tolak ? Ya nggak, itu bentuk pemberian, tapi bukan sesuatu yang sebenernya gw harapin.

Gak semua orang yang kita undang dan berhadir itu mampu, bisa memberikan isi amplop atau kado. Karena memang bukan itu yang utama. Jadi kalo ada tamu yang ngasih amplop isi penyedap rasa, ga usah dinyinyirin, tapi ucapkan rasa terimakasih dan syukur kepada orang itu. Dia bersedia menyisihkan 3 hal, pertama dia menyisihkan waktunya untuk bisa berhadir di acaramu, kedua, dia bersedia menyisihkan rezekinya untuk bisa memberi sesuatu yang dia mampu. Dan ketiga,dia udah menyisihkan doa-doa untuk pernikahan.

13 taun lalu, saat pernikahan gw, banyak amplop kosong. Tiap kali buka amplop kosong, rasanya sedih, jadi berasa berdosa, berasa memaksa tiap undangan untuk menyisihkan amplop buat dimasukin ke dalam kotak di sisi pelaminan. Dan pas gw omongin hal ini ama Mama, beliau dengan muka serius ngomong : "Amplop itu isinya doa"